Sering Dikucilkan Karena Difabel, Ojol Ini Terus Berjuang
Difabel
Rp 77,603,852
telah terkumpul dari Rp 70,000,000
1088 Donatur
Hingga 03 April 2026
Bagikan Campaign
Deskripsi Campaign
Sejak tahun 2019, Pak Sani bekerja sebagai ojek online demi bertahan hidup dan menanggung keluarganya. Ayah Sani telah lebih dulu pergi karena sakit liver, setahun setelah sang ibu wafat akibat gagal ginjal. Dalam waktu yang berdekatan, Pak Sani kehilangan dua pilar utama hidupnya. Sejak saat itu, tanggung jawab menjaga dan menghidupi sang nenek yang kian renta di usia 69 tahun serta satu adik bungsunya yang masih duduk di bangku sekolah dasar jatuh ke pundaknya

Di tengah keterbatasan fisik karena tidak bisa bicara dengan jelas, Pak Sani tetap memilih bertahan. Ia pernah mencoba mencari pekerjaan lain, namun berulang kali ditolak dan bahkan diperlakukan tidak adil hanya karena kondisinya. Hingga akhirnya, ojek online menjadi satu-satunya jalan agar ia tetap bisa bertahan.
Setiap hari, Pak Sani keluar rumah sejak pagi. Ia menjadi ojek hingga malam, bahkan sering melanjutkan sampai subuh saat orderan sepi. Dari penghasilannya sebagai ojek, Pak Sani harus membaginya untuk makan bertiga, biaya sekolah adik, kebutuhan nenek, dan dana darurat jika sewaktu-waktu musibah datang.

Sering kali, keluarga ini hanya makan nasi dengan lauk seadanya bahkan ada hari-hari di mana mereka hanya bisa makan sekali, atau terpaksa menahan lapar. Untuk bekal sekolah, Pak Sani hanya mampu memberi Rp5.000 per hari kepada adiknya. Sementara beras bulanan masih berharap pada keringanan tangan orang lain.
Ironisnya, di saat berjuang keras, karena keterbatasannya dalam berbicara, Pak Sani juga kerap menghadapi diskriminasi. Ia pernah mendapat ulasan kejam berkaitan dengan kekurangan yang dimiliki Pak Sani yang membuat orderannya sepi berhari-hari. Pernah tertipu order fiktif bernilai besar. Pernah terjatuh dari motor saat bekerja. Namun ia tetap bangkit, karena menyerah bukan pilihan.
Sebulan lalu, Pak Sani baru saja menjalani operasi usus buntu. Jahitan lukanya belum sepenuhnya kering, tapi ia tetap memaksa bekerja. Beristirahat bukan kemewahan yang bisa ia pilih. Jika ia berhenti, maka keluarganya tidak makan.

Kini, Pak Sani juga dihimpit hutang kebutuhan dasar: tunggakan air yang menumpuk, hutang kecil di warung untuk jajan adik, serta motor tua yang semakin sering mogok, padahal motor itulah satu-satunya alat untuk mencari nafkah.
Harapan Pak Sani sederhana, namun berat, ia ingin neneknya tetap sehat di usia senja, ia ingin adiknya bisa terus sekolah, bahkan sampai perguruan tinggi. Ia ingin memiliki motor yang layak agar bisa bekerja dengan aman dan stabil.
Bukan kemewahan yang ia minta. Hanya kesempatan untuk bertahan hidup dengan lebih manusiawi.
Hari ini, Sani tidak sedang meminta belas kasihan. Ia sedang meminta uluran tangan agar perjuangannya tidak sia-sia. Agar seorang kakak yang sudah terlalu lelah ini tidak harus terus berjuang sendirian.
Kalian dapat berpartisipasi dalam campaign ini dengan menyebarkan dan berdonasi dengan cara:
Klik Donasi Sekarang;
Masukan nominal donasinya;
Pilih metode pembayaran;
Dapatkan laporan via email.
